Sarah dan Hagar (1)

Perang yang Melahirkan Dendam turunan sampai Akhir Jaman?
Semula saya sering tersenyum sendiri ketika melihat film India, alurnya muidah ditebak. Mesti berkisar masalah dendam, masalah ketidak adilan dan endingnya pasti kemenangan dipegang oleh yang benar. Kata anak-anak santri, lakone menang keri (pahlawan yang ditokohkan biasanya menangnya belakanagan). India dalam mengemas film dan tontonan jenis ginian memang paling jago, sehingga melahirkan gerak revolusi industri perfilman di negara sana sampai merambah keluar negeri dan melahirkan banyak devisa.

Sementara itu dunia perfilman kita macet, seret dan tersenggal-senggal, mati tidak hidup juga enggan. Kalau dalam bahasa pesantrennya laya mutu wala yahya, yang di plesetkan menjadi “tidak bermutu dan ngenteke biaya”, hahaha..

Tetapi tulisan ini sama sekali bukan untuk mengkritisi sebuah produk perfilman, hanya menjadi refleksi saya ketika diundang oleh lembaga BIBILKA Indonesia, yang menyelenggarakan SPKS (Sekolah Pendalaman Kitab Suci) di jalan Tebet, Jakarta. Mas Edwin pengurus Hiswana Migas (Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas), yang juga anggota Lion Club dan penggerak Santo Petrus sebuah Paroki di Jakarta Pusat, awalnya berdiskusi denganku sembari makan kentang goreng dan minum kopi panas di KFC bilangan Tebet.

Lalu berkembang jadi sering di undang berceramah di paroki-paroki di Jakarta. Sampai sempat berceramah di Katedral bersama Romo Pujo dan juga di KWI saat ramainya teroris melakukan pengebomam. Ada Sidney John pengamat dari Australia dan CIA, juga ada Prof Dr Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih Muhammadiyah. Dan (Kristen Katholik, Yahudi dan Islam), itu sesungguhnya memiliki pengaruh cakra ayang sanagat kuat, ketiga agama inilah penggerak dunia sebenarnya. Dalam balutan benci tapi rindu, dalam balutan cemburu, tergeraklah poros dunia dan dinamika keberagaman dunia dalam satu kutub yang memenuhi pasang surut dan benci tapi rindu atau ogah tapi mau.

Sekiranya saja tidak ada Ibrahim, ah.. sekirannya saja ketika Ibrahim di bakar tidak datang Ruh Kudus menanyai doa apa yang engkau inginkan agar Allah menyelematkanmu? niscaya tidak seramai ini dunia ini. Karena  Ibrahim menjawab pertanayaan Jibril itu dengan mengatakan “Allah tahu apa yang ada di dalam hatiku dan keinginanku “latut rikuhul abshoru wahuwal yudriqul abshoro wahuwah latiful khobir”, maka Allah kemaudian berfirman kepada Api, “Ya Narukuni Bardan wa salaman ala Ibrahim” (wahai api selamatkan Ibrahim dari panas yang membakarmu  dan sengatan lukamu) maka selamatlah dia. Kalau saja Ibrahim bukan sebagai penghancur berhala-berhala, kalau saja Ibrahim kemudian tidak merasa perlu meneruskan keturunan. Ah kalau saja.

Tugas Generasi
Tetapi semua itu hanya kalau, seandainya dan Allah memiliki skenario berfikir sendiri “innalloha fa’alu limayurid”, maka kemudian Ibrahim merasa ditempeli sepi dalam berumah tangga, meskipun istrinya Sarah di pilihkan Allah berasal dari keturunan berderajad tinggi dan cantiknya luar biasa. Istri Ibrahim konon berdarah Tunisia, sehingga kulitnya putih kemerahan dan kecantiknya jarang ada duanya itu. Memimjam kata Asmuni Srimulat, konon Sarah kalau minum kopi, kelihatan kopinya berjalan dari mulut lewat kerongkongan leher dan menuju ke perut saking  beningnya (hahaha) Kelak keturunan Tunisia ini sering menjadi ratu kecantikan sejagad dan menjuarainya.

Tetapi dengan usia yang memasuki kerentaan, kekhawatiran Ibrahim akan kekosongan generasi penerus penebar iman semakin kuat “Ya Allah tulangku semakin rapuh Usiaku semakin renta tetapi aku tidak memiliki keturunan, lalu siapa yang menjadi penerusku seandainya aku mati?” Doa inilah yang kemaudian oleh Allah di wahyukan agar Ibrahim mengambil Istri lain selain Sarah.

Awal Kecemburuan
Sarah meskipun sudah tua, tidak merelakan suaminya kawin lagi. Siapapun wanita yang memiliki suami dan berniat kawin lagi pasti marah, terbakar hatinya dan dilanda cemburu luar biasa. Bodohlah wanita yang merelakan suaminya kawin lagi, meskipun syareat agama membenarkan, apalagi zaman Ibrahim orang berkawin lebih dari satu sudah biasa. Bahkan Daud (David dalam Taurat) pun memiliki istri 999 dan Sulaiaman 99 orang, tetapi Ibrahim sang kekasih Allah sang Kholilullah mendapatkan wahyu, datangnya wahyu macam-macam jalan (tidak di perdebatkan disini) untuk menikah lagi.

Sarah yang menyadari kemandulannya mengijinkan dengan syarat, dia yang memilihkannnya. Maka Ibrahim pun di pilihkan seorang budak perempuan yang menjadi tukang sisir rambut sarah. Sudah kulitnya hitam, wajahnya tidak menarik, konon seorang laki-laki tidak akan nafsu syahwatnya jika melihat Hagar dan penampilannya. Tetapi karena itu wahyu maka Ibrahim tidak menolak pilihan sang Istri.

Sarah memilihkan istri yang buruk rupa, hitam kulitnya dengan harapan agar tidak ada keturunan, karena Ibrahim tidak tertarik. Tetapi Sarah lupa bahwa Ibrahim adalah kekasih Allah, dia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu karena Allah, maka segala berkat mengalir darinya, karena cinta Allah kepada Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada Allah. Sehingga dari tulang sulbinya keluarlah banyak Nabi dan Rosul, dari tulang sulbinyalah tersiar kesucian nama Allah dan dari tulang sulbinya keluar pemuka bangsa dan masyarakat serta Rosul yang senantiasa mengagungkan nama Nya.

Kecemburuan Sarah itu semakin menjadi ketika mengetahui ternyata Hagar hamil dan melahirkan Ismail. Dan meminta Ibrahim membuang Hagar. Ibrahim tidak memenuhi permintaan sang istri pertama itu, karena belum memperoleh perintah Allah. Maka setelah wahyu turun, Hagar “dibuang” ke tanah Bakah, ribuan mil dari rumah Ibrahim. Tanah Bakah yang kelak menjadi Makah, itu memang ada rumah Allah yang pertama di dunia yang dibangun Adam, setelah bertemu dengan Hawa di Jedah. Namun kondisi waktu itu lembah Bakah atau lembah Mekah sangatlah tandus tidak ada seorangpun yang tinggal, bahkan rumputpun enggan tumbuh. Sehingga Hagar sempat bertanya kepada Ibrahim “Wahai suamiku Rosul Allah, apakah perintah memindahkanku dan Ismail yang belum genap 5 hari ini perintah Allahmu atau allahmu yang cantik itu?” (maksudnya Sarah, jadi menurut riwayat ini Ibrahim meskipun tidak takut istri ada perasaan keder juga kepada Sarah, hingga Hagar menanyai suaminya dalam bentuk kata bercabang). Dijawab oleh Ibrahim ini adalah perintah Allah.

Kalau perintah Allahmu (Yahwe) mu, maka aku akan bersabar dan tawakal kepada Allah, insya Allah Allahu tidak akan membiarkanku dan Putramu yang masih merah ini hidup terlantara dan terlunta-lunta. Bagian ini selanjutnya kita paham kemudian Ismail melahirkan kemu’zizatan dengan menendangkan kakinya ke tanah keluar air zam-zam dan dijadikan minum sang anak dan ibu. Bahkan karena munculnya sumber ini menjadi perubahan perdangangan internasional waktu itu, maka kabilah-kabilah yang lewat dari mana saja senantiasa mampir ke Bakah, lebah Mekah untuk mengisi bahan bakar Onta dan penunggangnya yakni air zam-zam.

Lalu bagaimana dengan Sarah? Ketika Allah melihat keburukan kaum Luth sepupu Ibrahim yang juga menjadi Nabi dan Rosul, Allah mengutus malaikat penghukum bersama ruh Kudus, Jibril untuk mampir ke rumah Ibrahim dan mengabarkan bahwa Ibrahim memperoleh kabar gembira, bahwa istrinya Sarah akan melahirkan. Mana mungkin aku sudah lama tidak berkumpul dengan suamiku yang tua bangka, usiaku sudah 90 tahun dan suamiku sudah 100 tahun? Sang malaikat menajawab, kenapa engkau berprasangka demikian, bukankah Allah mampu berbuat apa saja, dari yang tidak ada menjadi ada sebagaimana kejadian Adam? Dari yang mati ratusan tahun bisa hidup lagi sebagaimana Nabi Uzair? Lalu Sarah terdiam dan demi mendapatkan pemantaban imannya, dia tertawa gembira. Maka sang malaikat menagatakan kembali, beri nama dia Is Haque atau yang sedang tertawa. Ibrahim kelak akan mendapatkan anak bernama Ishaque, lalu Ya’cub.

Cemburu yang Menurun
Pada Kisah bagian ini semua makmum, hanya saja saya sampaikan kepada calon-calon Romo dan Pastur yang mengikuti sekolah pendalaman kitab suci itu tentang kesadaran dan kesucian. Tentang cemburu yang tidak berkesudahan tentang sakit hati yang seharusnya tidak layak dijadikan alasan penolakan akan kehadiran agama samawi, tentang dialog hati yang tidak pernah selesai, tentang sebuah tanya besar kenapa sama-sama mengakui bapaknya orang beriman tetapi ternyata keturunannya selalu berperang.

Saya ajukan pertanyaan kepada saudaraku yang sangat giat mendalami kitab suci itu sebuah masalah kecil. Kalau sebuah bejana kotor, mungkinkah mengeluarkan air bersih? Kalau ada gelas kotor mungkinkah mampu menuangkan air bersih? Jawabannya sama, tidak mungkin air bersih keluar dari tempat yang bersih, disamping airnya itu dari asalnya bersih sebelum di masukan bejana dan gelas juga bersih.

Lalu mungkinkah Allah mencintai orang yang berbuat dosa?
Mungkinkah pendosa yang terus-menerus, di anggap beriman?
Dan benarkah orang yang suka gundik itu bisa disebut sebagai sumber berkah, berkah atau rahmat Allah?
Apakah karena berkulit hitam dan bekas budak, maka perkawinan Nabi itu di sebut zina dan hagar adalah gundik?

Pertanayaan inilah yang membuat saudaraku peserta SPKS itu terhenyak. Bagaimana mungkin ada tafsir berbau cemburu masih mewarnai kehidupan beragama kita sampai sekarang. Anda ini semua bukan keturunan Ibrahim dan bukan juga keturunan Tunisia atau Sarah, anda orang Indonesia dan sebagian besar Jawa dan Cina, kenapa tidak menyadari adanya kecemburuan yang menempel dalam sifat Sarah, sehingga mewarnai kitab suci dan menutup hatimu dari kebenaran. Seorang yang bersahadat akan menerima kebenaran itu apa adanya. Tidak dianggap bersahdat kepada Allah dan Rosulnya yang tidak memiliki kebesaran jiwa menerima kebenaran yang ada meskipun ada di mulut binatang, karena kebenaran itu hanyalah satu kebenaran universal itu milik Allah maka menerima kebenaran itu sesungguhnya menerima Allah.

Lalu bagaimana dengan kata Gundik di dalam kitab suci itu? Kenapa kita tidak menyadari ambivalensi ini, kenapa kita tidak menaggapinya. Bahwa tidak mingkin dicampurkan antara peceren dan sumber air yang bersih, kecuali sebagai hubungan antara yang kotor dan bersih bukan. Apakah Allah bisa salah? Apakah Allah bisa tidak cermat? kalau jawabannya tidak, maka penafsir kitab suci temen-temenlah yang salah sehingga menampilkan sebuah kontradisksi ketuhanan yang sangat menganggu. Di satu sisi semua gereja menuliskan bermula dari berkat Ibrahim, disisi lain Ibrahim menyimpan gundik sampai beranak. Bagaimana hukum ziana? Kenapa tidak berlaku pada Ibrahim malah dijadikan sebagai sumber berkat? Yang salah yang menyatakan Ibrahim adalah sumber berkat dan bapaknya orang beriman atau Ibrahim memiliki atau menyimpan atau suka kelonan dengan gundik sampai memiliki anak?

Perang Salib
Saudaraku kecemburuan yang menempel dalam tafsir kitab suci itu sudah banyak mengambil korban, jutaan orang mati. Perang salib hingga mencapai 5 pereode telah melahirkan korban jutaan orang. Tafsir agama pula yang melahirkan pemabantaian kaum Katholik oleh kaum Kristen di Jerman yang menelan korban jutaan orang pemeluk Katholik, juga lambang-lambang agama seperti salib dan gereja dibakar oleh orang-orang Kristen, semua agama samawi itu memiliki bayangan gelap, apakah dimasa orang yang merindukan kedamaian dan keadilan kasih Allah, Ar Rahman dan Ar Rahim ini masih juga kita pertahankan kelalaian tafsir berbau cemburunya Sarah?

Kecemburuan Sarah yang barangkali tidak seperti ini, tetapi sebagai istri cemburu wajar. Namun sebagai istri Nabi besar, Sarah pasti sudah menyadari kekeliruannya, apalagai setelah mendapatkan anak Is Haque dan Ya’cub, kecemburuan itu menjadi sirna. Kenapa justru dihembuskan sedemikian kuatnya akhir-akhir ini sehingga jalinan cinta para pemeluk agama samawi tidak pernah terjadi. Kan aneh, sama-sama mengaku Ibrahim adalah bapaknya orang beriman kok muncul perang salib. Muncul pembasmian ala Vasco da Gama yang mengaku sebagai tenatara Allah dan membunuhi orang Islam di Hindia. Muncul juga balasan Bani Ismailiyah di timur yang membunuhi orang Syi’i.

Namun saya berpedoman positif semua ini adalah kehendak Allah, sehingga melahirkan pengharu biru dunia. Melahirkan penyebaran antara bangsa, budaya dan iman. Malahirkan sebuah proses komunikasi iman yang penuh dengan persaudaraan, saya yakin bahwa kecemburuan Sarah yang telah mengharu biru dunia ini ada manfaat bagi kita. “Robbana ma kholakta hadza bathila subkhanaka fa kina adzabanaar”, namun bukankah ada baiknya kalau kita mulai “sopan” memperlakukan gelar bapak orang beriman? Sopan kepada sang penebar Berkat? Ibrahim, Abraham kholilullah alaisalam?

Saudaraku saya menulis ini bukan untuk mencari perpecahan, tetapi sekedar meng epiel, saya sering ditangisi temen Pendeta dan Pastur yang grejanya di rusak, tetapi kenapa sebab  kerusakan ini tetap dipertahankan, kenapa engkau tega mengatakan Ibrahim menyimpan gundik dan gundik itu melahirkan Ismail dan melahirkan agama besar dunia Islam. Coba telaah, mari kita berdamai dengan menyingkirkan stereotipe nya. Jangan berdamai dengan cara munafik, bermanis wajah di muka tetapi hatinya penuh penyakit onak dan duri.

Tulisan ini hanya gambaran kasar insya Allah saya tulis seri duannya, jika sempat dan Allah memperpanjang Usiaku.

Salam damai dari kami untuk saudaraku,
Katholik dan Kristen serta Yahudi