Lihatlah Laron Cintanya Pada Cahaya

Selamat berpuasa saudaraku

Puasa adalah methode Allah yang di berlakukan sejak zaman nabi-nabi sebelum Rosul Muhammad untuk membersihkan gelas diri kita. “Ya ayuha ladzina amanu kutiba alaikummu siyamu kama kutiba alaladzina min koblikum la’alakum tataqun” .

Karena tidak mungkin mendekati sang Maha Suci dengan kekotoran diri, kekotoran tubuh, kekotoran fikir dan angan bukan? Maka langkah gerak hati sanubari tubuh dan niat ini musti di giring dalam kerangka Takholi, agar menemukan sebuah bejana gelas yang bersih, dimaknai taqwa.

Dalam perenungan puasa yang suhu tubuh memanas karena kosong perut kita, maka terjadilah pemuaian ion tubuh dan gerak elektromaghnit kita menjadi membesar, gelombang amplitudo memanjang, maka mengguratkan wajah yang cerah, lembut dan senyum. Gerak wajah senyum dan hati yang lembut ini mulai mendapatkan rensonansi Cahaya Allah, meski sama tetapi mengikat gerak ruh binatang kita, ruh alam kita menjadi tunduk dalam kepatuhan illahiyah pada komando Ruh Mustika. Sehingga menggerakan semua hati, niat dan badan untuk melakukan amalan sholeh.

Ketertarikan berbuat sholeh amalan baik ini bukan semata-mata karena mendapatkan pahala dengan hitungan 10 sampai 700 kali lipat, tetapi gerak reflek sebagaimana laron melihat cahaya dia akan menuju ke titik cahaya itu meskipun untuk mencapai cahaya itu dia harus mati secara fungsi. Karena sayapnya akan terbakar dan patah, tetapi justru dengan mematahkan sayap ini dia mampu menjangkau daerah sebaran yang lebih luas, dibandingkan dengan jalan kaki.

Mematikan diri
Dengan terbang menuju cahaya ini laron memiliki orientasi dan perjuangan tujuan yang luar biasa, dia dapat menduduki atau sampai pada kawasan yang jauh lebih luas dari dunia rumah asalnya dan kemaudian beranak pinak membawa bekal bagi kehidupan yang selanjutnya. Dalam langkah gerak hati Imam Athoilah al Askandari dalam hikamnya menyebut kan Kuburlah dirimu di dalam alam kekosongan. Mutu Qobla anta Muttu, sabda nabi. Untuk mencapai kesucian illahiyah harus dialakukan gerak laron terhadap cahaya. Mematikan kepentingan diri, selesai terhadap dirinya tetapi menuju kepada kemuliaan.

Sebenarnya menyelesaikan urusan dunia dengan cara tidak diikat oleh cintanya pada dunia adalah langkah bajik, langkah cerdas, sianar fathonah yang menggerakan hati, karena meninggalkannya keterpautan atau kemelekatan terhadap dunia inilah yang membuat diri semakin kotor, sehingga tidak ada air bersih sedikitpun dalam gelas yang kotor bukan? Langkah kebaikan dengan amalan sholeh ini disebut dengan Tahali.

Karena yang di tuju dan di idamkan adalah yang maha baik, maka terjadi proses imitasi manusia terhadap kesempurnaan Allah. Karena Allah Allahu Shomadu maka manusia baik harus meniru patron kebaikan Allah. Maka lihatlah pada bulan puasa ini di Makah semua orang Arab Yang KIKIR KIKIR menjadi dermawan. Bahkan kalau enagkau sholat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi setelah sholat Ashar maka engkau tidak boleh keluar masjid, tanganmu di tarik-tarik untuk duduk, kemudian mereka menyiapak takjil untuk persiapan buka puasa.

Demikian pula di Indonesia dan seantero dunia. Apakah gerak mereka ini hanya gerak jasad, darah dan daging? Bisa ya bisa tidak. Tetapi yang pasti semua memang menjadi gerak syaraf reflek kebaikan semua menuju kepada kesucian, diri dalam rangka cinta dan ingat akan kesucian Illahiyah Nya.

Saudaraku, dalam tataran syareat gerak pertama disebut Asholatu Mughul Ibadah, dalam tataran Ilmu Yaqin, sedangkan gerak kedua disebut dengan Ainul Yaqin atau Tahali disini lintas derajad sholatnya sudah menjangkau asholatu li Dzikri. Lalu bagaimana dengan asholatu mi’rojul lil mukminin?

Megatruh
Kesadaran bangsa Jawa Dwipa yang memiliki area sampai Tumasik Singapura, Malaysia, Burma, Thailan dan Vietnam serta Madagaskar dan Minandao Philipina itu, memiliki kesadarah akan hal Ruh sedemikian tingginya. Padahal tahap ketiga puasa Romadhon sudah di maknai sebagai gerak alam Megatruh. Memutus Ruh kata orang jawa ngrogoh sukmo. Melakukan gerak samadi, semedhi topo untuk memisahkan badan kasar dan badan halus.
Gerakan ini disebut Asholatu mi’rojul lil mukminin atau kelas Haqul Yaqin, sehingga pancaran Cahaya Illahiyah sedemikian nglegeno, cetho welo welo dan aterang benderang. Konisi ini di sebut nuril Mubin atau dalam surat Nur di katakan “Yahdilahu Linurihi mayasa’u”.

Cara-cara sholatpun sudah sedemikian halus. Gerak hatinya menjadi gerak Samadhi atau semedi. Lho bukankah semedhi itu klenik dan musyrik?

Jangan kesusu begitu, jangan tergesa-gesa menvonis. Bangsa jawa dahulu menguasai dunia karena kebijakannya dan karena agama-agama shobiin agama terdahulu, yang di ajarkan para nabi Jawa. Diantaranya Nabi Sis dan Nabi Ibrahim juga Musa ketika pereode (pengasingan di hutan-hutan) dan Nuh yang pada pereode dakwah akhirnya membuat kapal dialakukan di jawa.

Semedhi itu dari akar kata ash Shomad tempat bergantung. Pada kepasrahan orang jawa yang mutlak dia menyerahkan jiwa raga dengan as Shomad atau semedi, berharap sepenuhnya kepada Allah dimana ditangan Nya lah semua mahluk hidup bergantung. Gerak ini disebut dengan gerak kepompong berproses amenuju kupu-kupu. Meninggalakan diri lama mematikan dirinya yang lama baju lama untuk mengenakan baju ketaqwaan, dari cahaya. Maka ini di sebut dengan gerak Tajali, memancarnya Cahaya Illahiyah dari diri kita atas pantulan Allah kesemua arah alam.

Rumah Cahaya
Aplikasi sehari harinya dia sudah mulai melakaukan gerak simetris dengan gerakan Ash Shomadu Allah, mulai bungkus-bungkus sembako, sarung dan baju untuk orang miskin. Bukan untuk memberi makan saja, tetapi semua didasari oleh gerak bergantung tempoat bergantung, maka meminta atau tidak diminta dia sediakan untuk umat berupa sembako.

Dia berkeweajiban menyediakan keperluan hidup manusia, sebagaimana Allah. Nah puasa kita sudah di level mana? jangan takut saudaraku berlatihlah. Allah menyediakan beratus ribu nabi dan menyediakan milyaran malaikat. Bahkan dirinya Sendiri tidak pernah jauh darimu, melatihmu dengan telaten sabar membimbingmu dan mengajakmu pulang ke rumah Cahaya.

Kita ini dari surga, maka kemabalilah ke surga. Kita ini manausia cahaya ruh kita adalah penggalan Nur Muhammad yang berasal dario Nurullah. Maka kembalilah ke jalan yang terang ahrijna min dhulumatil illa nur. Bahkan kita ini Nur dan tubuh kita senantiasa di beri makan dengan cahaya, baik wudlu (cahaya) sholat (cahaya menuju cahaya) dan puasa adalah gerak sadar pemisahan diri, antara bagian darah dan daging dengan cahaya.

Jadi jangan kahawatir dengan kondisi dirimu saat ini, segeralah menuju kepada surau, masjid dan oesantren yang Ulamanya sabar tidak suka memaki. Ulama nya ramah tidak marah. Yang ulamanya mengajak bukan mengejek, agar cahayamu tersingkap dan engkau siap duduk di singgasana cahaya menuju cahaya Allah.

Bukankah ketika Rosul setelah Mi’roj ditanya sahabat, engkau Wahai Baginda Rosul telah melakukan Mi’roj dan bertemu dengan Yang Maha Agung Allah SWT. Apa yang engkau lihat? Jawabanya adalah CAHAYA.
Duh, Allahu nurusy syamawati wal ardhi ila akhir.