Ngaji Yang Sesungguhnya?

Di sebuah WA saya tersentak ketika ada sebuah status yang menyebutkan ‘ngaji yang sesungguhnya’ sembari sang penulis mengatakan dia dalam perjalajanan menuju ke makom mertuannya yang meninggal 2 hari atau 3 hari yang lalu.

Ya benar, ngaji yang sesungguhnya adalah melihat ibunda kita kemarin masih yuswo (hidup) sekarang kita ziarahi, bersamaan dengan itu kita melihat anak kita hamil dan kemarin melahirkan. Betapa deket antara hamil dan melahirkan, menjadi bayi dewasa lalu mati. Kisah hidup ini berulang di depan mata kita, sehingga menjadi biasa, karena melihat pengulangan proses hidup tanpa pretensi dalam sejarah kita meski terdapat pelajaran dan misteri yang menggelayuti setiap insani.

Peringatan
Ada yang berpendapat sang tamu misterius, yang bernama kematian “kullu nafsi da iqotul maut”, itu tidak pernah memberikan peringatan. Benar kah ? Izroil tidak pernah mengetuk pintu rumah kita?

Sebenarnya tidak demikian sahabat karib Jibril ini, sahabat karib kita juga. Sebenarnya sudah memberikan tanda tanda yang jelas bagi orang yang ingat. Kemarin kita gagah, sekarang loyo, renta dan di gerogoti asam urat, kolesterol dan lemak yang menumpuk karena kita selalu makan untuk hidup. Padahal hidup hanya sementara, kita rencanakan sedemikian rupa. Bahkan menjelang kematianpun kita masih menipu diri dengan menisbikan kematian itu dengan merencanakan sekuat tenaga dan ya lupa akan mati yang semakin mendekati.

Coba perhatikan di sekitar kita, lingkungan, rumah tangga dan pantulan kita sendiri. Ulang tahun kita, kita siapkan, perencanaan hidup kita siapkan, bersiasat untuk hidup. Yang sebenarnya waktu sisa kita untuk beredar semakin sempit. Izroil juga selalu datang saat kita berkaca, wajah kita yang kencang semakin kendor, kemulusan pipi sudah mulai keriput meski sudah ditutup bedak. Bahkan ketika makan, Izroil juga menyapa kita, gigi semakin memanjang dan renggang, untuk menggigit mangga saja musti gigi di kawatin agar tidak coplok atau tumbuh semakin liar.

Jadi jangan katakan, bahwa Izroil tidak mengingatkan. Saat muda, kaki kita yang kokoh, kini sudah gampang semutan, sisa – sisa kegantengan kita dan kecantikan kita hanya nampak sesekali ketika hatimu tenang dengan mengingat Nya. Lalu kalau hidup sudah hampir tamat, kenapa masih menyusun siasat untuk hidup ? berlomba mengumpulkan harta dengan semena – mena. Padahal jika kita mau jujur harta yang terkumpul itu setelah kita gapai dari  jalan halal atau haram, yang dimakanpun tidak seberapa.

Sahabat itu mengatakan ngaji yang sesungguhnya, ketika berziarah ke makam mertua, itu benar. Kita sudah diperlihatkan sosok Allah yang hadlir di awal kehidupan di perut dan Allah hadir dalam diri seorang anak dalam bentuk hidup dan kemudian setelah tua kita dipanggil balik.

Mahluk Cahaya
Dipanggil balik? Iya sebenarnya kita tidak pernah mencari Allah. Tidak mampu dengan tidak mungkin mampu, kita ini ditemukan oleh Allah di awasi dan akan di panggil lagi. Kita mahluk cahaya yang berasal dari surga. Maka akan kembali ke surga. Tidak perlu mencari Nya, wong setiap hari kita dalam dekapannya. Engkau hanya perlu membersihkan Ruh Nya dari kekotoran jasad yang nafsu bejadmu saja. Lalu baliklah ke haribaan di surga yang sudah lama menantikan kedatanganmu. Tahukah engkau wahai kaum yang ber iman, jangankan harta benda dan amalmu, ruhmu pun sudah di beli oleh Allah dengan surga. Jadi perbaiki perilakumu, engkau ini mahluk cahaya dan penghuni surga, surga atau swarga itu atas, luhur, tinggi dan mulya, tempat para dewa dalam dialek Budha. Jadi tidak pantas menjadi mahluk bawah atau neraka, karna bawah adalah jiwa kasar yang reksasa.

Ngaji yang sesungguhnya ? Benar hidup adalah ngaji yang sesungguhnya? Kita sedang ngaji sembari berjalan pulang. Setelah di alam ide, alam nur Muhammad, alam di Lauhul Mahfud, alam “Alastu” ? Dimana engkau ketemu dengan Nya dan ditanya alastu birrobikum. Lalu Ruh mu yang berasal dari Ruh Mu itu, engkau itu menjawab “qollu bala sahidna”. Lalu engkau di klambeni darah daging dan dibuatkan kulit, di buatkan hidung mancung dengan mata kucing anggora, wajah cantik dan mempesona. Lalu engkau harus mencari manusia sejati, manusia kamil yang linuwih yang risalahnya saja merupakan kelengkapan dan penyempurna segala agama. Yang ego nya di hilangkan dalam fana Nya, sang super ego, yang dirinya menjadi majas dan kebaqaan Nya dan mulutmu mengucapkan “wa asyhaduana Muhammadar rosulullah”. Engkau teruskan syahadat langit itu dengan syahadat bumi.

Ya benar, engkau temui Allah yang di langit itu dan engkau telusuri CintaNya dengan diri Muhammad, maka setelah sempurna amalmu untuk pembersih Ruh Nya yang dititipkan pada ragamu, maka temuilah mu kecilmu dengan mu besar Mu, yang sudah dicontohkan diri Nya didunia yang ada pada diri Muhammad untuk bertemu diri Nya dalam diri Nya yang sejati.

Ngaji yang sesungguhnya ambar atau kesturi adalah wangi langit yang ada di bumi. Maknanya membabarkan dengan sederhana, semoga engkau menemukan Nya dalam kalimat sederhana itu dan kita juga sederhana dalam risalah Allah dalam Muhammad yang sederhana tetapi sempurna. “Ya ayatuhan nafsul muth ma inah irji’i ila Robbbiki rodiyatam mardiyah” tenangkan jiwamu dengan ngaji yang sesungguhnya, disitu engkau akan melihat Allah yang maujud dari segala yang majas, insya Allah.

Cah angon
25 november 2015
Ngaji sesungguhnya?