Secangkir Kopi Pahit

Pengalaman Hal Santri Tasawuf

Ada seorang santri mengemukakan pengalaman tasawufnya begini,:
Suatu sore bakda ashar, datang seorang tua berlogat Madura minta diseduhkan kopi pahit dua cangkir. Saya bilang, saya tidak punya kopi pahit mbah, adanya kopi kapal api saset yg sudah bergula. Orang tua itu bilang ya sudah tidak apa – apa. Kemudian saya seduhkan dua gelas plastik. Lho, yang satu buat siapa, saya tanya? Buat sampean, kata si mbah dalam logat madura. Belum sempat nyruput kopi si mbah lalu berbicara : mas, afdolnya dzikir itu “laa ilaha ilallah”. Kaki kirimu melangkah katakan laa ilaha, kemudian katakan ilallah saat kaki kananmu mengayun.

Abah, kopi yang seharusnya manis ternyata terasa pahit dan ucapan si mbah entah siapa yang setelah mengatakan itu dan meminum kopi yang seharusnya manis, hilang. Saat saya masuk mengambil korek api untuk merokok, sejak itu saya mengartikan dengan bulat dan teguh “laa ilaha ilallah” adalah berkemanusiaan. Karena wilayah nalar/logika Kanjeng Nabi, sebaik – baiknya manusia adalah manusia yang bertauhid dengan mengaplikasikan berketuhanan menjadi kemanfaatan bagi sesama manusia

Lalu saya jelaskan begini:
Sakhih, itu pengalaman langka yang tidak semua orang bisa mengalami dan mendapatkan mas. Maka kuncinya qhaul jadid yang muncul sebagai representasi suasana hati. Semanis apapun kopimu, karena qhaul nya pahit. Ya terasa pahit dan hukum pahit menyertai niatnya. Sebaliknya, meskipun secara fisik air putih yang engkau hidangkan akan tetapi ucapanmu mengatakan itu arak, maka akan menjadi arak. Dan hukum arak menyertai air putih itu.

Oleh sebab itu manis dan asin atau sepet dan segernya hidup ini, bergantung hatimu. Hati yang di cumondoki Rasa Allah atau tidak. Jika ada rasa Allah, maka engkau akan menemukan kelezatan dalam segala suasana, bergantung hatimu karena di hatimu itu sesungguhnya bait Allah ada.

Semua ini menjadi pelajaran bagi kalian yang sedang bersuluk. Lalu disetiap terminal nafasmu adakah engkau temukan tanda – tanda Gusti Allah dalam tapak – tapak ruhanimu?