Bolehkah Dosamu Aku Minta, Sialmu Aku Rebut ?

Ada seorang nyai muda keluarga Pesantren Peta mensitir nasehat seorang ulama salaf (bukan salafi lho) namanya Uqoili E Jalil, dia menulis bahwa Imam Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin r.a berkata ada 3 hal apabila engkau jalani, kau akan dapat kemuliaan dunia dan akhirat :

– Memaafkan orang yang mendzolimimu.
– Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya.
– Sabar ketika engkau diperlakukan sebagai orang bodoh..

Para santri kemudian bertanya kepadaku, bahwa bukankah melaksanakan petuah itu demikian beratnya ? Saya jawab benar, tetapi jika persoalannya di petakan akan mudah.

Begini, dosa itu beda dengan duit, sial dan apes itu tidak sama dengan uang. Dan apes itu sungguh tidak serupa dengan kabegjan. Nah jika kita diminta duit, diminta uang atau kabegjan kemudian kita menolak itu wajar dan sangat manusiawi bukan. Namun kalau diminta dosanya (milik kita) di rebut, sebel dan sial masa kita menolak atau tidak mau memberikan dan mengikhlaskan ketidak bagusan itu pergi ?

Logikanya begini, sebenarnya ketika kita didholimi, Allah membukakan pintu rahmat dan doa kita di kabulkan. Sementara orang yang mendholimi kita menyerap sial dan dosa kita. Ketika silaturahmi di putuskan, dia menutup pintu surga dan aib kita dengan bungkus dosa direbutnya, maka rejeki dan kamulyan dunia akherat kita terima sebagai tukarnya, pada saat mereka memutus tali silaturahmi dan kita menyambung. Demikian juga ketika kita di jalur sabar, maka kita menempatkan diri sebagai penenang, derajad kita di luhurkan Allah. Bukankah sabar itu nama Allah dan hanya sedikit yang bisa memakainya sehingga Allah cinta ? Imbalan apa yang seimbang dengan karunia ini, harta kita di usir, di bodohkan oleh orang bodoh ?

Maka tiga jalan memuju mikroj kepada keluhuran itu akan jadi ringan jika kita letakkan pada cawan yang berbinar terang, insya Allah.