Tawaduk dan Takaran Sabar Adalah Berlian Allah yang Berserak

Saudaraku, memoles diri yang sesuai dengan selera Allah adalah seni paling tinggi. Warna yang paling di sukainya dari lukisan cinta-Nya adalah dua :

1. Sabar
2. Tawaduk

Tetapi warna keduannya ini susah diterapkan meskipun jumlahnya sedemikian besar dan berserak di sekitar kita. Saya menulis ini karena ada santri saya yang hebat, luar biasa dan senantiasa menjadi juara dalam sekolah atau kursus bahkan ketika jadi Polisipun dia senantiasa juara.

Tetapi saking cintanya Allah kepadanya, maka sang kekasih kecil ini di uji ketawadukan dan kesabarannya, lewat seorang Jendral yang kemudian menjadi Kapoldanya. Masalah yang krusial ini layak untuk dilihat dan dijadikan iktibar sang Polisi muda yang berprestasi ini di kotak, padahal tidak salah dan tidak berbuat keliru.

Maka wajar krmudian dia mencari kelemahan dirinya kenapa dia di kotak. Setelah tidak menemukan maka jiwa mudanya berontak merasa diperlakukan tidak adil, dia lupa Yusuf yang tidak bersalah saja akan dibunuh saudarahya sendiri dan di buang ke sumur. Kemudian ditemukan oleh seorang penjual budak yang kebetulan lewat, serta di jual sebagai budak.

Bahkan anak seorang pendeta majusi terbesar di dunia yang memiliki pengaruh bernama Salman Al Farizi, juga tidak bersalah. Arsitek perang khondhak yang menjadi sahabat terkasih Rosul ini sempat ditipu hartanya dan di jual sebagai budak. Keduanya sabar.

Orang terpilih ini terbukti lulus ujian dan keduanya menemukan jalan kegemilangan dunia akherat. Inilah yang disebut berlian. Ini tawaduk dan jiwa yang sabar. Tetapi harus diakui, memang susah menemukan apalagi menerapkan, kedua jenis berlian Allah itu. Meskipun sebenarnya keberadaan berlian dan tawaduk itu berserak di sekitar kita.

Berkata Yahya bin Abi Katsir rahimahullah:
رأس التواضع ثلاث أن ترضى بالدون من شرف المجلس وأن تبدأ من لقيته بالسلام وأن تكره من المدحة والسمعة والرياء بالبر

Induk Tawadhu’ ada tiga:
– Engkau rela tidak duduk pada kursi kehormatan dalam setiap forum.
– Engkau mengawali salam pada setiap orang yang engkau jumpai.
– Dan engkau tidak menyukai pujian, sum’ah (reputasi), dan riya dalam setiap kebajikan yang engkau perbuat. (At-Tawaadhu’ Wal Khumul: hal, 154)

Berkata AlHasan Al-Bashri rahimahullah,
هل تدرون مالتواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً الا رأيت له عليك فضلاً
“Tahukah dirimu apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumah, lalu setiap kali engkau bertemu dengan orang muslim, maka engkau merasa bahwa ia lebih baik darimu.”

Kadang yang kita rasakan, merugikan kita. Sesungguhnya digunakan oleh Allah untuk menyelamatkan kita. Banyak orang yang marah karena diperlakukan tidak adil, tetapi kemudian bersyukur setelah tahu bahwa perlakuan itu menyelamatkannya. Misalnya ketika saya harusnya jadi Menteri dan Kabulog. Tetapi karena suatu hal saya tidak jadi, yang jadi malah mas Bambang Wijanarko, waktu itu dada terasa sesak. Namun tiga bulan kemudian saya merasa bersyukur karena mas Bambang ada di penjara Cipinang. Bukan karena melihat orang celaka kita senang, tetapi untungnya saya bukan yang di lantik jadi Kabulog. . Kalau saja saya mau jabatan itu, tentu saya yang jadi Napi. Ini lho hikmah tersamar yang kadang di turunkan sebagai ujian dan penakar kesabaran kita.

Takaran Sabar
Kita sering tidak paham takaran kesabaran kita sendiri. Karena kita sering menerapkan semua sistem nilai bermuara kepada diri sendiri, tidak mencoba menyamakan dengan sekenario Illahi. Padahal kita ini mahluk Illahi. Artinya memiliki sifat ke illahian, sebagai kholifah fil ardhi Nya. Dan belajar mencintai semua, bukan hanya untuk dia dan kamu tetapi mereka dan kita juga semua mahluknya.

Oleh sebab itu coba baca nukilan diatas yang saya ambilkan dari kitab At tawaduk wal khumul, halaman 154 ini, barangkali engkau menemukan jati dirimu sebagai berlian prima, bukan sekedar mutiara yang mengeluh meski sudah memiliki kilauan cinta.

Semarang, Bandara A Yani 24 jan 2016
Cah Angon Nuril Arifin.