Di Bandara, Tetapi Hatiku Disana (Makah)

Saat ini ada saya sedang di bandara Semarang. Setelah kemarin memenuhi undangan Imlek Suthe Ong Cwan Swie atau Eddy Santosa ketua Gusdurian Mandiri Pati, dalam rangka meningkatkan kesalehan sosial dengan membangun pos kesehatan yang disumbangkan ke Pesantren Tahfidul Qur’an anak-anak di desa Bremi yang dipimpin KH Jaelani dan Gus Sokhib dan sekarang sudah mau terbang lagi.

Seperti penjaga pintu maduk Bandara, petugas loket ceck-in pun tersenyum, kemarin baru landing dan sore ngatar terbang istri dan sekarang Abah sendiri yang terbang. Padahal kemarinnya saya ngurus tiket Abah yang ke Singapura, duh duh betapa tinggi aktivitas jam terbang Abah. Kata anak muda yang menjaga counter, sambil bertanya mau duduk di lorong atau di dekat jendela. Tolong dilorong yang dibangku darurat ya, soalnya Abah sering kencing kan diabetnya makin solid. Jadi kalau mau ke kamar kecil tidak ngloncati orang, gak enak rasanya. Haha.

Namun setelah duduk di bangku ruang tunggu, hatiku rasanya ingat Makatul Mukaromah. Duh Riyad Arab menyerang Syria, setelah menyerang negara nenek moyang asal muasal bangsa ini, Yaman. Yaman adalah negara seribu wali dan selama ini menjadi rujukan kaum muslimin Indonesia, banyak santri Indonesia yang ngaji di sana. Karena disamping masih Suni, mereka rukun dengan Syi’i.

Tetapi negeri itu sekarang tercabik-cabik setelah Arab Saudi membom bandir. Menang ? Oh tidak, malah merusak ekonomi negeri si penyerang itu sendiri, sehingga berdanpak harga bbm disana mulai meroket naik hingga 65%. Sekarang malah menyerang Syria, negeri dimana Rosul sering berdagang mewakili Hadijah yang kemudian menjadi isteri pertama Rosul yang kemudian melahir Sayidatina Fatimah. Dari Sayidatina Fatimah inilah lahir cucu beliau yang sangat di cintai, yang sama-sama dihormati oleh Suni maupun pengikut Syi’i.

Kalau dibawah raja baru, semangat aneksasinya tinggi, ditambah direstui Israel dan AS. Sehingga menciptakan ketidak tentraman jasirah Arab, saya semakin khawatir dinasti raja Saud ini akan menjadi sumber bagi ketidak amanan Makatul Mukaromah dan Madinatul Munawaroh. Selama ini sudah banyak muncul keinginan negara-negara Islam untuk menjadikan kedua kota suci penghasil terbesar devisa terbesar dunia itu untuk di kelola secara mandiri oleh konsursium negara-negara Islam, bukan di kuasai Arab Saudi.

Banyak demo, khususnya dari warga syiah dan Iran sehingga semakin memperuncing perseteruan Iran dan Arab. Ketika kedua negara ini menegang, sebenarnya justru mengundang kekuatan AS di jazirah ini dan kita mendapatkan kerugian. Sekurang kurangnya kemurnian Kabah jadi terganggu, karena orang Arab sekarang sudah mulai masuk masjid dengan kaos bergambar macam-macam, pakai celana sepak bola dan pakaian yang tidak mencerminkan kesucian kota suci.

Melanggar syareat? Tidak juga sih, tetapi tidak pantas kalau penjaga kota suci justru penduduknya berpakaian seadanya, petantang-petenteng, padahal tamu-tamu Allah yang berkunjung berpakaian yang rapi dan santun, eh yang menjadi tuan rumahnya kok malah begitu.

Maret ini insya Allah saya akan berkunjung, ziarah ke Makah memenuhi kerinduan hati. Semoga Allah menjaga stamina hati saya yang rapuh ini, agar tidak terpengaruh oleh sikap badui Arab yang memang badui ini. Rencana perjalanan ini 11 hari, ada biro yang menawari dengan harga promo, bintang lima hotelnya dan pesawat Qatar Air, dengan harga bintang tiga. Hanya 2.150 dolar kalau anda mau ikut umroh tasawuf, monggo kontak ke asisten saya Aryopati di 08122562222.

Tahun baru imlek 2567 ini berlambang kera api. Saya tidak mempercayai astronomi semacam ini, tetapi berjaga-jaga dari gejolak dan ketamakan hati itu perlu. Bukankah syarat taqwa itu aladzina yungfikuna fi saro wa dhoro wal kadhiminal ghoidho wa afinna anin nas. Wallohu yuhibul mukhsinin.

Labaik Allahuma labaik, aku datang ya Allah,untuk memenuhi panggilan Mu dan meneguhkan imanku, bahwa tidak ada serikat bagimu, segala nikmat dan kerajaan di alam semesta ini milik Mu.

Cah Angon,semarang 9 Februari 2016
Nuril Arifin abinya Salman al Farizi
Pesantren Abdurahman Wahid
Sokotunggal Semarang dan Jakarta