Diantara Sofwa dan Marwa Kami berdoa

Inna sofwa wal marwata min sya’a irilla, pada putaran ke tujuh, langkah kaki kami ber-21 orang terhenti di bukit Marwa dan kami berdoa. Menumpahkan rasa syukur sekaligus nestapa, semua terlihat lelah tetapi wajah berbinar karena fibradi cahaya yang memancar dari hajar aswad dan dari masya’ir masya’ir Allah.

Puncak keharuan adalah ketika saya berdoa untuk para pemimpin bangsa, khususnya untuk Pak Karno (Ir. Soekarno), Pak Harto, Pak Adam Malik, Sri Sultan HB IX, Pak Bj Habibi, Pak Sudharmono dan Gus Dur (KH. Abdurrahman Adhakhil Wahid), semua jamaah menangis. Semua jamaah menjadi haru dan mengekspresikan dalam berbagai gesture. Bahkan tanpa kecuali kafilah lain termasuk jamaah lain yang tidak serombongan.

Putra Pak Sudharmono, mas Tantyo Adji Sudharmono yang kebetulan satu rombongan dengan kami pun mendekatiku. Sembari memelukku, dia berucap kata dengan getaran hati seribu warna. Sambil berucap “terima kasih Gus”.

Terima kasih masih ada ulama yang ikhlas mendoakan pemimpinnya di kota suci tanpa di minta, bahkan mendoakan NKRI, ucapnya lirih. Demi mendengar kalimat penuh haru itu, saya yang mencoba bertahan untuk tidak menangis, tidak kuasa lagi menahannya, akhirnya bendungan air mata ambrol juga bersama keharuan yang mengharu biru, kami datang dalam kekosongan jiwa dan hati karena semua tempat telah engkau penuhimya Illahi.