Syarah Hikmah Kyai Sholeh Darat as Samaroni (2)

Pilihan Antara Tajrid dan Asbab

“Irodatukat tajrieda ma’a iqomatillah iyaaka fii al asbabi minasy syahawat al khofiiyatii wa irodatuka al asbabba ma’a iqomatillah iyaka fiit tajriidin hithotho ‘anil himmmati al ‘aliyati”

(Mongko nuturaken syeikh ibnu A’thoillah ,ing ndalem hikmah kaping pindo, kang tegese ,utawi ngarepno siro ninggal kasab sartane Allah, wis manggon aken ing siro ing ndalem maqom kasab, itu setengah saking syahwat kabungkus nafsu alus tur kang samar. Karena karep siro ninggal kasab ing hale Allah wis manggonaken ing ndalem kasab, iku karepe nafsu, supayo siro den sifati dining wong akeh, yen siro iku wong kang zahid)

Keinginanmu untuk tajrid (yaitu, artinya hanya beribadah saja tanpa berusaha mencari kehidupan rejeki di dunia) padahal sebenarnya Allah masih menempatkan engkau pada maqom asbab (yang harus berusaha, berdagang atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi diri dan anak serta keluarga) adalah syahwad yang halus dan samar. Namun sebaliknya, keinginan mu untuk menempati maqom asbab, padahal Allah sudah mengangkat mu menempati maqom tajrid, itu berarti merendahkan derajad dan menunjukan turunnya semangat akan tawakal kepada Allah.

Santri dan saudaraku yang budiman, memang sulit mengerti kedudukan sendiri, itu sama halnya mencapai tataran makrifat halus dan menyesuaikan frekwensi Allah itu susah. Mencari frekwensi radio saja susah, apalagi frekwensi Allah.  Kadang tuning yang jarumnya sudah kita anggap benar ehh ternyata kurang pas, sehingga gelombang radio yang terpancar tidak sempurna kita tangkap sehingga suara radio kita menjadi tidak jernih dan kemresek.

Namun sebagai salik atau orang yang sedang mencari jalan kebenaran dan pertemuan indah dengan sang Nur ala Nur, harus berusaha untuk meraba dan menggunakan rasa pangrasa kita. Agar sekurang-kurangnya menemukan ketetapan hati, sesungguhnya kita itu ada di maqom apa.

Meskipun sebenarnya pada hamba yang memiliki maqom makrifat, dia dibekali rasa qonaah, artinya : menerima ketetapan yang diperuntukan Allah baginya. Baik sebagai penghuni maqom usaha (asbab) atau maqom tajrid (yang menggantungkan pada mahakarya dan belas kasih Allah).

Maka keinginan kita yang kadang ingin meninggalkan maqom kasab atau asbab itu sesungguhnya tersembunyi nafsu yang samar, karena Allah lebih tahu manfaatmu itu berdiri disisi mana. “Robbana ma qolakta hadza bathila”, jika engkau memaksakan diri berseberangan dengan ketentuan Allah, padahal Allah lebih faham tentang mu dan melongok hatimu setiap saat, bahkan menugaskan malaikatNya setiap 21 menit sekali untuk mengetahui hal mu. Maka sesungguhnya engkau ini hanya ingin di pandang orang sebagai orang yang zuhud.

Ketahuilah sauadaraku, orang yang zuhud itu bukan berarti yang nganggur dan tidak berusaha. Bukan berarti harus berpakaian tembelan atau menampilkan kemiskinan dunia, bukan. Zuhud itu pada hati, bukan pada penampakan dhohir.

Balung Kere
Ada kisah unik yang di alami para pencari Tuhan dan kebenaran (salik), diawal-awal perjalananku, punya seorang sahabat yang semula sangat trendi karena dia kebetulan pencipta lagu dan lagu-lagunya terkenal dan menjadi pendulang uang. Kebetulan dia juga anak seorang kiyai besar yang saudra-saudaranya juga menjadi guru saya. Sekian tahun kemudian kami tidak pernah berjumpa, ketika berjumpa lagi saya kaget melihat penpilannya. Gus itu Lusuh, wajah ganteng pucat masai dan pakaiannya yang trendi hilang semua, cara jalannya juga menjadi tidak trengginas, berkesan malas. Setelah saya tanya, kenapa engkau berubah sedemikian rupa ?
Dia menjawab :
× saya zuhud
+ zuhud bagaimana
× saya tinggalkan dunia dan anak istri saya
+ lho kenapa begitu
× ya itu tadi saya zuhud

Oooo alah tho kang-kang. Zuhud itu bukan begitu, Zuhud itu tidak menafikan kepemilikan harta dan dunia, tetapi memungkuri dunia dan menghilangkan kemelekatan kita tentang dunia, bukan kemudian engkau meninggalkan dunia, terus mengandalkan orang lain untuk hidup dan kehidupanmu sehari-hari. Anak istri juga punya hak terhadap kita kang. Pernahkan Nabi meninggalkan anak istri atau mentelantarkan mereka ? Tidak bukan. Tetapi juga Nabi yang memiliki kekayaan dan kekuasaan dua pertiga dunia, juga tidak mengalami kemelakatan terhadap dunia.

Maka janganlah karena sahwatmu yang tersembunyi mampu mengelabui amalmu dan menuntut hak atas maqom asbabmu menjadi maqom tajrid. Namun demikian ketika Allah menempatkan mu pada maqom tajrid, janganlah engkau tinggalkan untuk menempati maqom asbab atau kasab. Karena keinginan yang tidak dituntun oleh hati yang wiro’i ini justru menjerumuskanmu pada posisi yang rendah (makom kere).

Keinginanmu meninggalkan maqom tajrid itu karena di dorong oleh keinginanmu untuk mendapatkan harta yang melimpah atau takut miskin dan sesungguhnya sifat ini adalah hembusan iblis yang akan menjerumuskanmu pada perilaku tamak dan kikir. Jangan melampui yang sudah di gariskan, maqommu asbab atau tajrid itu sama saja. Berusaha atas duniamu dan berdoa atau berusaha dan beribadah sesuai tuntutan syareat Nabi, itu tidak lebih rendah daripada maqom yang sepenuhnya menggantungkan atas rahman rahim Allah. Karena sesungguhnya orang-orang yang bermaqom tajrid itu bekerja di ladang yang berbeda. Dia menjawab ladang Allah yang bernama agama.

“In tansyurulloh yansyurkum wastabikmakdamakum” jika engkau menolong agama Allah maka engkau akan di tolong Allah dan dintetapkan kedudukannya.

Maka mengsikapi ini kita musti memohon kepada Allah agar tetap konsisten pada maqom masing-masing setelah melihat tanda-tanda kita ini pada maqom apa.

Disinilah perlunya bimbingan seorang mursyid, di dalam berselancar di langit Tuhan. Saudaraku maqom itu adalah sebuah istilah dalam dunia sufi. Artinya tata nilai dan etika yang musti di perjuangkan dan dinujudkan oleh seorang salik (seorang pecinta yang menelusuri jalan kebenaran spiritual dalam praktek penghambaan diri kepada Nur ala Nur) melalui berbagai tingkatan peribadatan, riyadloh dan latihan yang tidak kenal lelah dan tidak kenal menyerah.