Syarah Hikmah Kyai Sholeh Darat as Samaroni (3)

Menembus Benteng Takdir

“Sawaabiqul himami la takhriqu aswaaro al aqdari”
(Sebesar apapun semangatmu engkau pompakan dan tekadmu engkau tetapkan, tetapi tetap saja tidak akan menembus tebalnya benteng taqdir Allah atas mu).

Mongko ngendika aken Syeikh Ibnu Athoillah al Askandari, ing ndalem hikmah kaping tigo, kang dipun syarahe kaliyan sinuwun ulamaipun ulamana Nusantara, inggih meniko simbah Hadratusy Syeikh Kiyahi Haji Sholeh Darat as Samaroni, kang tegese :

“Utawi di nggeni angen angen siro iku ora biso mbedah ing ndalem pemestine kodare Allah”.

Sertone angen-angen siro :
Lamun laku kasab (usaha ing ngalam dunyo), utowo lamun laku mergawe, iku mongko penguasane bakal khasil faedah, antuk utowo cukup rejekiku. Iku mung angen angen ora biso dadi ngelangkahi ing pestine qudrat azzali ora.

Mongko ojo kanggonan mengkono, cupet la ngakehaken cupet ing ndalem mikir perkarane rejeki. Karena Allah wis ngiro-ngiro marang siro sak durunge wujud siro.

Saudaraku, dari kecil kita di didik untuk mensikapi segala sesuatu dengan kemasan yang agak keliru, hanya mengarah kepada segala macam pergulatan di tataran kulit saja. Tidak menyentuh hakikinya, sehingga hidup menjadi tipis dan hampa, mudah robek dan sia-sia.

Dari mulai belajar di sekolah, tidak ada niatan guru, untuk mengajarkan bahwa sekolah mencari ilmu itu untuk mencerdaskan diri dalam memahami keutamaan ibadah. Sehingga mampu menguak kehidupan yang ramah dan marhamah.

Pendidikan kita di kemas dalam bentuk perlombaan untuk merebut sebuah kertas yang bernama ijazah. Ijazah itu untuk berebut sebuah surat keputusan yang terbuat dari kertas pula, yang menyebutkan anda di terima sebagai pegawai pada sebuah kantor tertentu dengan gaji tertentu, lengkap dengan jam kerja ketentuan lembur sampai dengan ketentuan-ketentuan bonus, biaya peawatan dan sebagainya.

Surat itu yang bernama surat keputusan. Setelah memperoleh kertas tersebut, digunakan untuk mendapatkan kertas yang lain pula, di mekanisme pernikahan bernama surat kawin. Ada yang didapat dari departemen agama ada yang diperoleh dari catatan sipil.

Yang menurut saya catatan sipil ini bentuk toleransi atas pernikahan yang kurang tepat, bagi saya catatan sipil atau pernikahan tanpa didasari agama, hanyalah pelacuran yang di resmikan. Seseorang menikah dan meneruskan keturunan tanpa tuntunan agama hanya akan melahirkan sia sia dan kerusakan yang bertambah tambah.

Pola pendidikan ini lah yang melahirkan sikap jumawa, kadang manusia merasa menyamai Tuhan. Merancang segala macam hidup dan tujuannya untuk mencapai sesuatu yang diharapkan dapat menembus langit. Bahkan ketika ada dalam koridor agama pun, Tuhan ditempatkan sebagai pelengkap penderita. Tuhan dianggap sebagai pelayan, yang harus mengabulkan dan memenuhi tuntutan doanya.

Tamu
Seorang salik kadang dalam kebekuan pikir hendak menembus ketentuan tajrid dan asbab. Melihat hubungan, melihat yang datang kerumahnya atau pesantrennya. Melihat kenyataan yang meminta tolong padanya adalah pemilik kunci fasilitas, tamunya santrinya pejabat kok, kadang sang salik ini kepingin meluaskan perjuangan.

Hatinya tergetar, pikirannya melayang sehingga melahirkan angan dan membuktikan dalam bentuk usaha yang sungguh-sungguh. Dalam pikiranya, kalau fasilitas ketemu fasilitas pasti dapat uang kekuasaan atau jabatan dunia yang mengenakan. Ini syahwat namanya, ini jebakan setan namanya, karena keinginan dan nggirohmu atau semangatmu untuk menembus dunia itu tidak akan mampu menembus kodrat gusti Allah atasmu.

Imam Ibnu Athoillah ngendiko, engkau ini tamu. Setiap tamu pasti dapat pasugoto alias suguhan. Maka jangan ngarani sugatan apa yang di aturkan kepadamu. Karena tuan rumah lebih tahu apa yang menjadi kebutuhanmu dibandingkan dengan dirimu sendiri. Sebab engkau sudah di siapkan segalanya oleh Allah sebelum engkau ini berdiam di perut ibumu.

“Alam taklam analloha yaklam ma fis sama’i wal ardhi, inna dzalika fi kitabi inna dzalika alallahi yasir”, kabeh mau wis di siapno, wis tinulis, awakmu lan awak e dewe mung sak dermo. Jangan mensiasati ketentuan sebuah qonon azasi yang di buat oleh ahli. Kita tidak mungkin dibuat dengan sia-sia. Kita di buat oleh Allah sudah sesuai master oasenya Allah, sesuai biji mata, sesuai citra-Nya. Saling melengkapi dan saling menghiasi.

Menembus
Bukankah kita tidak memahami platfon yang dibuat oleh Allah untuk kita, sehingga kita bisa saja menembus dinding qodrat yang tidak pernah di mengerti? Tanyamu di dalam hati. Bukankah semua diciptakan untuk manusia, maka mengupayakan dan mengembangkan potensi diri untuk menembus dinding qodrat adalah sebuah keniscayaan. Bukan ?

Bahkan nabi sendiri mengatakan “la yarudu qodo ila doa”. Tidak berubah qodrat seseorang, kecuali dengan doa. Berarti ini menyediakan ruang atau koridor bagi perubahan atau sekurang-kurangnya kalau tidak menabrak ya kompromi dengan kodrat. Tanyamu di dalam hati,  hahaha.

Sekali lagi apapun ghiroh dan semangatmu dalam berijtihad atau berikhtiar sungguh tidak akan menembus dinding tembok tanpa batas yang bernama qodrat. “Innalloha ala kulli syaii’in qodir”. Santriku dimana saja engkau berada, maka berdoalah dengan merendahkan hatimu, dalam doa yasin Fadzillah ada sepenggal doa yang pas untuk kita bawa perentas taqdir.

“Allah huma salimna min afati dunya wal akheroh, wa fitnatihima inaka ala kulli syai’in qodir”.