Syarah Hikmah Kyai Sholeh Darat as Samaroni

“Min ‘alamatil i’timadi ‘ala al’amal, nuqshonu roja’i ‘inda wujuudiz zalali “

Diantara tanda-tanda sesorang berlandaskan kepada kebaikan amal usahanya sendiri adalah berbanding terbalik dengan kurangnya roja’ atau harapan terhadap karunia rahmat Allah. Ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa.

Weruho hiyo salik setuhune kelakuan wajib ing atase wong mukmin shodiq untuk berpegang teguh kepada Allah semata. Jangan sekali-kali engkau bersandar kepada selain-Nya. Karena ilmu dan amalmu tidak dapat dijadikan pengharapan. Jangan sampai ilmu dan amalmulah yang membuatmu masuk surga atau neraka.

Karena surga dan neraka itu hanya sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Demikian juga amal baikmu itu alamat, hanya tanda, bukan sebab atau pembuat syarat masuk. Maknanya sesungguhnya amal perbuatan kita itu merupakan tanda bahwa Allah memberikan karunia kita untuk kemulyaan kita, sehingga dapat berbuat baik. Jadi, semua itu karena semata-mata karunia, karena semua berasal dari karunia Allah, kita tidak layak mengharapkan imbalan pahala apalagi berharap di masukan ke dalam surga sebagai tuntutan atas imbalan dan pahala.

Demikian pula sebaliknya ketika kita berbuat jahat dan terjerumus kepada kemaksiatan, jangan kemudian kita berputus asa dari rahmat Allah. Engkau beranggapan karena engkau memang jahat dan tertutup pintu kebaikan. Bukan begitu, karena sesungguhnya ketika tergelincirnya seorang hamba didalam lembah maksiat, itu sesungguhnya semua karena Allah ingin menunjukimu dengan sebuah kondisi. Bahwa kekuasaan Allah yang memaksa, menekanmu berbuat maksiat tanpa engkau dapat lawan dengan akal sehat dan nafsumu yang ikut terbakar.

Kenapa ? Agar kondisi ini mencapai titik hingga menyadarkanmu bahwa karunia kebaikan yang di berikan kepadamu semakin menunjukan bentuk karunia. Padahal Allah juga bisa membuatmu terjerumus kepada kemaksiatan apapun pangkat dan derajadmu di dunia.

Weruho siro ing ceritane Pendeto Bala’am bin Ba’uro lan Qorun ? Sertane karo karone ahli ibadah lan qorun iku Ulama’ e Bani Isroel, nanging karo karonene matine kafir kabeh.

Apakah engkau juga tidak tahu kisah Sayidatina Asiyah binti Muzahim, kendatipun dia menjadi istri Firaun, tetapi hatinya tidak condong kepada sang suami yang ingkar, tetapi lebih memilih mencintai Allah dalam penghambaan yang pari purna. Sehingga kelak di hari kiamat pun, beliau akan di gantikan kebahagiaan suami istri di dunia yang tidak didapatkan itu dengan menempati kedudukan sebagai istri Rosululloh Muhammad.

Jadi , saudaraku dan para santri, segala yang terjadi di dunia ini sesungguhnya hanya Fadhol Allah (hadiah) kepada kita. Bukan karena amal dan keburukan kita sendiri. Semua itu hanya tanda, coba engkau perhatikan kisahnya Kan’an putra Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Kedua duanya tidak selamat atas nasibnya sendiri bahkan keduannya celaka.

Jalan Thoat
Jadi, seorang Nabi sendiri pun tidak dapat menjamin dan menyelamatkan anak dan istrinya. Hanya semata-mata Allah saja lah sandaran segalanya amal perbuatan bagi kita. Allah juga yang menentukan iman dan kafirnya seseorang. Oleh sebab itu engkau jangan silau dengan kekeramatan dunia. Yang engkau lihat keramat itu sesungguhnya ketika tidak di barengi dengan istiqomah, maka hanya tipu daya belaka.

Nabi mengajarkan kita untuk senantiasa mengontrol hati, sehingga dalam setiap sholat kita disunahkan membaca dan berdoa “ya muqolibal qulub stabit qolbi ala dinika wala thoatik”.

Perbaiki amalmu, bukan untuk surga dan neraka, tetapi bacalah bahwa engkau mulai dituntun Allah kearah mana, jalan hidupmu. Dan jangan beranggapan bahwa kebaikanmu itu adalah kebaikanmu semata, karena hasil usahamu. Semua itu adalah keinginan Allah memberikan tanda kepadamu, bahwa Dia berkenan, demikian pula sebaliknya.

Maka jangan kemudian engkau merasa telah berbuat baik dan apalagi merasa berjasa kepada Allah dan menuntut pahala apalagi Surga.

Berat? Memang, maka perlu riyadhoh, perlu latihan. Untuk melatih hati yang beku agar menjadi lumer. Setelah lumer mengeras kembali dengan harapan semata kepada-Nya. Jadi, bukan hanya ngaji kuping melulu yang segala berpengaruh dan saling berpengaruh. Ngaji kuping tanpa hati yang pasrah itu hanya seperti pasir yang menempel di batu, ketika terkena air akan rontok.

Koyo dene gudir, miyar-miyur ora teges. Koyo dene wong ketutup atine tansah kuwatir, yang ketika terdengar petir, ilmumu ngacir. Sehingga mengalami kematian yang getir.