Belajar Lembut dan Sabar dari Perjanjian Hudaibiyah

Dua tahun lebih setelah Hijrah nabi, perasaan Rosulullah Muhammad mengharu biru. Kangen dan rindu ingin sholat di dalam Ka’bah. Saking rindunya sampai terbawa mimpi, mimpi seriang Rosul adalah wahyu. Dan wahyu itu diperkuat dengan datangnya firman Allah:
Laqad sadaqa Allahu rasoolahu alrruya bialhaqqi latadkhulunna almasjida alharama in shaa Allahu amineena

Namun mimpi yang di benarkan oleh Allah dalam wahuyunya ini tidak serta merta berjalan mulus. Kerinduan seorang nabi teruji lewat serangkaian hambatan dan cobaan, diantaranya lewat perjanjian hudaibiyah.

Rombongan Nabi dihambat diantara Madinah dan Makah, sehingga terjadilah negoisasi dari pihak Nabi diwakili oleh Nabi sendiri dan didampingi Sayidina Ali, sedangkan pihak kafir Quraisy, diwakili oleh tokoh yang sangat cerdas dan fasih bernama Suheil.

Di prjanjian ini, Rosul tidak diakui kerasulannya, Nabi tidak diakui sebagai Nabi. Bahkan hanya ditulis Muhammad ibnu Abdullah. Demikian juga kalimat Bismillahirohman Nirohim ditolak dan diminta untuk dihapus karena bangsa Qurays tidak mengenal kalimat atau kata demikian, maka di gantikan dengan Bismika Allahuma.

Merugikan
Isi perjanjiannya pun sangat merugikan Nabi (maaf tidak saya ceritakan disini karena panjang), tetapi manusia paling sempurna itu dengan sabar mengahadapinya dengan senyum.

Bagi Nabi, pengakuan bukan diharapkan datang dari manusia, melainkan dari Allah. Manusia adalah tempat kefasikan serta kekafiran dan dunia adalah tempat bersendau gurau, tidak serius dan dholim. Sifat-sifat ini justru yang menjadikan Nur ala Nur memerintahkan Nur terbesarnya untuk merubahnya sebagai manusia yang taqwa dengan hadi agar menemukan huda.

Maka, wahai saudaraku, berlatihlah kalian untuk bersabar, apalagi jika engkau sedang berjalan di jalan Nabi, mengikuti jejak Nabi. Jangan hanya pakaianmu yang sama, tetapi kelakuanmu kaya bajak laut.

Kalau engkau meniru hanya sebatas pakaian, Abu Lahab dan Abu Jahal juga berpakaian sama. Mereka berpakaian dengan gamis seperti Nabi, berjenggot seperti Nabi. Lahir dan besar di kota yang sama dengan Nabi, tetapi kelakuannya, anda tahu sendiri.

Maka sunah Nabi bukan pada yang nampak simplisit, tetapi lebih kepada substansifnya. Nabi menjawab kedholiman dan kemungkaran dengan ahlaqul karimah, bukan dengan tuduhan kafir dan pentungan.