Masjid Sayidina Abu Bakar

Dulu sahabat ini menunjukan kesetiaan pari purna. Ketika hijrah ke Madinah sepasang sahabat yang akhirnya mengikat diri sebagai mertua dan menantu itu, memilih jalan melingkar. Rosul mendaki gunung tsur dan memasuki guanya yang dangkal.

Dalam kondisi kecapekan itulah sang sahabat menyediakan dirinya untuk perlindungan Rosul. Nabi tertidur di pangkuan Sayidina Abu Bakar. Ketika tertidur itulah muncul binatang berbisa di beberapa lubang di dalam gua. Melihat ular berbisa akan keluar dari lubangnya dan membahayakan Rosul, lubang sarang binatang itu ditutup dengan ibu jari kaki kanannya, ketika lubang yang lain muncul kadal berbisa ditutup dengan kaki yang lain. Demikian juga lubang yang lain ditutup dengan tangan, sehingga semua organ tubuh yang digunakan untuk menutup disengat binatang berbisa.

Dalam kondisi kesakitan itu tetes keringatnya jatuh ke pipi Rosul dan membuat Nabi terbangun.
+ Ada apa sahabatku? Tanya sang Rosul.
– Tidak ada apa-apa, ya Rosul, jawab Sayidina Abu Bakar sambil menahan sakit.
+ Coba saya lihat kaki dan tangan mu, kata Rosul. (Beliau faham apa yang diderita sang sahabat, meskipun Sayidina Abu Bakar menyembunyikan sakitnya).

Jika untuk ukuran orang biasa di gigit kadal dan ular beracun gurun, hanya hitungan detik atau menit sudah tewas. Tetapi demi menentramkan sahabatnya, Sayidina Abubakar menyembunyikan kesakitannya. Dan mengatakan tidak ada apa-apa. Sungguh luar biasa pengorbanan beliau, menarungkan nyawa untuk menemani Rosul, bahkan ketika muncul binatang berbisa dia korbankan dirinya, demi tidak mengganggu sang sahabat yang sedang istirahat dan ketika ditanya ada apa? Di jawab tidak ada masalah.

La Tahzan
Rosul kemudian mengobati sahabatnya dengan ludahnya dan sembuh sekatika. Mukzizat Nabi, ludahnya pun menjadi obat, tangannya mengeluarkan cahaya mirip avatar dan lengann bajunya bisa menyembunyikan bulan. Pohon kurma bisa berbicara dengan beliau, bahkan ada pohon besar dapat diperintah untuk jalan mendekat, tetapi ada mukzizat yang sesungguhnya mukzizat adalah Al-Qur’an.

Dalam kondisi masih terpengaruh racun binatang berbisa itu, Sayidina Abubakar mendengar derap kaki kuda dan onta balap yang memenuhi di depan gua. Salah satu penununggangnya adalah Suroqoh, pemburu berhadiah sekaligus pemimpin rombongan pemburu Nabi.

Sayidina Abubakar menggigil, keringatnya sampai sebesar jagung, karena kawatir dan pengaruh bisa yang tersisa. Namun Rosullullah memegang tangan sahabatnya sembari membisikan kata mukzizat “Ya Amirul Mukminin La Tahzan, InnAllaha Ma’ana (wahai pemimpin orang mukmin jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita).

Ucapan Gusti Kanjeng Nabi inilah yang dijadikan dasar ulama sufi didalam pembaiatan thoreqoh. Maka hampir semua cabang thoreqoh yang muktabar didunia ini senantiasa merujuk pada jalur puncaknya kepada beliau.

Tanah Surga
Jiwa raga Abu Bakar RA di pasrahkan demi perjuangan amanat langit sahabatnya dan rumahnya di Madinah pun di jadikan sebagai benteng terluar bagi perlindungan terhadap junjungannya. Kini rumah sahabat itu di jadikan masjid. Masjid Sayidina Abu Bakar. Pada akhir hayatnya beliau di makamkan di samping Rosul, di rumah Rosulullah . Kini posisinya di Masjid Nabawi.

Tempat itu di tasbihkan dalam sebuah hadis, maa baina baiti wa minbari roudhatun min Riyadil jannah. Antara rumahku dan mimbarku adalah tanah surga. Tempat inilah yang senantiasa di jadikan sarana munajad atau sekedar sujud untuk mencium tanah surga di bumi ini. Sebagian besar bahkan hampir semua jamaah umroh dan haji, tidak melewatkan tanah ini untuk berdoa atau sujud.

Insya Allah seseorang yang diperlihatkan surga di dunia, akan diperlihatkan surga di akherat pula. Insya Allah, wallah hu alam.