Sempurna Adalah

Gusti itu berasal dari kiroto boso. Bagusing ati, maka masih kalimat terbuka, mesti di tambahi Asma Adhom yakni Allah, jadi gusti Allah. Maka menjadi komplitlah. “Bagusing ati karena Allah”.

Segala sesuatu sudah, tanpa menfokuskan diri pada titik Allah, sifatnya hanya prematur, sementara saja. Bagus hari ini, maka besok pasti basi. Lihatlah dulu Bung Karno sangat sempurna, ketika muncul Jendral besar, cahayanya redup. Demikian pula Pak Harto nggegirisi kekuasaannya, semua titik kebenaran bermuara padanya, muncul reformasi semua berubah, ganti Pak Habibi yang jagoan teknologi.

Terus kesempurnaan itu bergeser lagi ke Gus Dur, presiden yang merombak tahta menjadi istana rakyat, muncul Mbak Mega, semua berubah juga sampai Pak SBY, yang menyelesaikan 10 tahun pemerintahannya, tetapi redup setelah muncul Mas Jokowi yang merakyat. Terus gilir gumanti, karena meteka masuk dalam konsepsi cokro manggilingan dan skenario gusti.

Segala sesuatu di dunia, ya begitu itu. Dia menjadi sempurna atau tidak sempurna. Punya arti atau sekedar sampah sama sekali, sesungguhnya tinggal bagaimana kesiapan hati manusia ketempatan Nur Gusti Allah. Tambah terang Nur’e, yo tambah sempurna penilaiannya.

Gusti Allah kuwi sempurna, dadi yo sempurna. Bahwa kita (manusia dan yang lain) yang sedang menuju ke titik penyatuan itu, menemukan jalan yang di tempuh tambah apik, tambah apik dadi gumun, heran. Padahal kawit biyen yo wis sempurna, sempurna itu tanpa cacat, bunder ser, haha. Maka kalau engkau menemukan tanda-Nya terlihat indah, berbahagialah tinggal sak nil engkau sampai, insya Allah. Amin.