Gonjang Ganjing Langit Jakarta

Berseliweran berbagai pendapat yang muncul di media on line atau media masa, baik tulis maupun elektronik. Sebagai pensiunan wartawan dari SKH Kedaulatan Rakyat, yang dirintis oleh tokoh Pers Pancasila, guru jurnalistik Pak Samawi dan Pak Wonohito, maka saya perlu menunjukan betapa media sekarang ini sudah nyeleweng dari Kaidah Pers Pancasila.

Kode etik jurnalistiknya kacau balau, trial by pers dan penghakiman seseorang atau kelompok oleh pers terjadi setiap detik. Bahkan lembaga pembuat opini publik ini sudah kehilangan jati diri sebagai pers pembangunan dan ruh revolusi dan ruh Pancasilanya.

Rakyat semakin bingung, dua media tv yang kini jelas bukan menjadi milik bangsa ini sudah demikian menyita perhatian umat dan mereka memecah belah. Bahkan keduannya menunjukan permusuhan dan keperpihakan atas segala sesuatu dan itu jelas hilang netralitasnya.

Maka sehubungan dengan isu sentral sekarang yang ada, saya perlu berkunjung ke pabrik patriotik di tanah air. Yang Khadaratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari sendiri menghormatinya, yaitu markas perlawanan dan markas perjuangan nasional Pesantren Bunted Ceribon.

Saya sempatkan bertemu dengan cucu Sayidina Abbas Bunted Ceribon yang adik bungsu angkat saya sendiri, Gus Fariz Fuad Hasyim bin Sayidina Abbas bin Yahya. PGN (Patriot Garuda Nusantara) yang dulu berisi satri-santri, saya bicarakan dengan adik angkat yang juga keponakan Ami Luthfi bin Yahya. Dari pembicaraan itulah kami sepakat segera mengangkat Panglima PGN yaitu Gus Fariz yang saya tunjuk, dia Pengasuh Pesantren Buntet. Mantan ketua PP Ansor Pusat. Dia cucu pembunuh Jendral Malaby komandan tentara sekutu, yang memenangkan perang dunia ke 2. Jendral bintang sembilan simbah Kiyai Abas Bunted itu melaui bapak angkat saya Hadratusy Syeikh KH. Fuad Hasyim, melahirkan macan muda yang siap mengaum. Bahkan kini tumbuh sayap dan terbang di dirgantara Nusantara.

Soal Pilgub DKI
Soal isu sentral sekarang ini di ibu kota, saya menegaskan bahwa PGN tidak urusan soal pilgub dki. Tetapi PGN peduli dengan nasib bangsa ini. Yang sudah di rajang-rajang oleh kelompok ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Faham komunis cina dan soviet serta komunis arab.

Maka saran saya, jangan karena ada orang yang pintar mengatur ruang tamumu, mengatur taplak mejamu, mengatur tamanmu, mengatur rumahmu, terus engkau berikan rumah satu-satunya milikmu kepadanya dan engkau sendiri kemudian tidur di emper. Karena engkau berfikir dia lebih baik dalam mengatur rumahmu dan engkau merasa tidak mampu. Itu pemikiran keblinger.

Tidak ada kewajiban santri soko tunggal memilih calon gubernur, siapapun dia. Tetapi kalau engkau bermental jongos dan pangling dengan jiwa nasionalmu, ya silahkan pilih aseng atau asing. Saya lepas dari tanggung jawab. Karena saya akan milih yang suka makmum jika aku sholat.