Malam Likuran Dikampung

Malam selikuran anda malam-malam semarak yang susah di lupakan, khususnya bagi santri-santri kecil yang kini tinggal di kota kota besar. Malam semarak penuh aroma relegius, spirit dan kekeluargaan di Masjid di Surau atau Langgar dan Mushola di tanah Jawa. Malam penuh berkah, canda dan salam tempel yang menyenangkan. Jika perlu anak-anak di kampung memperoleh malam likyran itu penuh perjuangan, dibela-belain tidur diserambi atah emper masjid.

Banyak Kiyai Jawa menggunakan rujukan kitab Ihya’nya Imam Ghkzali, untuk menafsirkan dan adang-adang alias njaring malam Lailatul Qodar, yang datang dalam semalam setahun sekali di bulan Romadlon ini. Hujatul Islam itu menulis dalam menafsirkan bahwa malam likuran atau malam ganjil itu sebagai qlue atau tanda datangnya malam Qodar atau Lailatul Qodar.

Di kampungku sendiri selikuran dintandai dengan mengirim tumpeng, ke mushola atau surau dan masjid kampung setelah di doain dan di tahlilkan. Tumpeng berisi urap dan sambal gireng serta ingkung ayam itu di makan bareng barang minongko saur sekaliyan.

Maka di tanggal berapa di daerahmu diadakan likuran? Hari ini saya sudah menunggu di ruang tunggu bandara Halim Perdana Kusuma untuk menghadiri buka bersama dan likyran di Masjid Soko Tunggal yang ada di komplek Pondok Pesantren Jiwa Sutho Bani Husein Sokotunggal Semarang, tertarik ? Monggo hadir, siapapun engkau, apapun profesimu, datanglah.

Cah angon berpuasa
Nuril Arifin Husein